Anda mempunyai karya nukilan sendiri? Berminat untuk dipaparkan dan menjadi penulis jemputan di Warna Kaseh? Hantarkan karya anda di warnakaseh@gmail.com. Kami akan menerima semua genre penulisan dan juga bahasa.
ZINE SULUNG WARNA KASEH SUDAH BERADA DI PASARAN. HANYA DENGAN RM8, ANDA BOLEH MEMBACA 32 CERPEN TERBAIK PENULIS WARNA KASEH DI ZINE PILIHAN! JADI APA TUNGGU LAGI? TIADA CETAKAN KE-DUA UNTUK ZINE INI. BELILAH SEMENTARA MASIH ADA STOK.

UNTUK MEMBELI ZINE PILIHAN, ANDA BOLEH MERUJUK DI BAHAGIAN ZINE.

Thursday, 7 November 2013

Kamar Gerah

Kamar Gerah

Sinar matahari menyeruak masuk di sela-sela ventilasi, menerangi kamar meski masih tertutup gorden. Sudah siang, pikirku. Tidur larut malam dan rutinitas yang berantakan membuatku kesulitan untuk bangun pagi. Kutengok kertas agenda hari ini, bergumam, "syukurlah, masih ada waktu untuk mengerjakan semuanya tepat waktu".
Semalam, kutonton habis semua daftar film di folder 'baru', maksudku, sebagian besar telah kutonton. Keputusan ini cukup ampuh untuk mengeluarkanku dari kerumunan suara yang memenuhi otak. Mereka bergumam namun masih bisa didengar; ada pula yang berteriak, menuntut sesuatu yang harus kukerjakan segera dan sempurna.
Badanku kewalahan menanggapi satu per satu suara-suara itu. Satu permintaan selesai kukerjakan, hendak mengurus permintaan yang lain, namun suara yang tadi menuntut lebih, tak puas dengan kinerjaku. Astaga! Berikan waktu untuk mengurusi urusanku yang lain dulu, suara-suara lain sudah tidak sabar menanti gilirannya. Penglihatanku gelap; pikiranku berpindah dari monitor di hadapanku, diseret paksa suara-suara yang tidak puas dengan hasil kerjaku, tertunduk mendengarkan serentetan suara yang saling menyahut.
***
Hari menjelang sore, kurebahkan badan dan melipat satu bantal penyangga kepala. "Aduh, jangan ditekuk, nanti busanya rusak!" temanku menarik celana panjangku, hendak meraih bantal. Aku menyeringai jahil. Tidak seperti kamarku, ruangan ini cukup luas untuk berdua; hanya saja, sedikit gerah karena salah satu sisi temboknya terpapar sinar matahari.
Temanku kembali menatap monitor, asyik bermain game online. Dulu aku juga pernah memainkannya tapi tidak lama; sosok-sosok seperti temanku itu sudah familiar lah. Tak lama setelah itu, dia  berhenti bermain; berbalik menatapku meski tak jauh dari monitor. "Apa yang kamu bisa saat itu juga, kerjakan saja, bro. Tidak usah pedulikan soal kesempurnaan jika memang kamu belum bisa lakukan sekarang," temanku meraih pen yang tergeletak di atas pentablet; diputar-putar dengan jarinya, lincah. Mulutku bungkam, mengangguk dan menaikkan alis saja menanggapi sarannya. Lalu manggut-manggut lagi, menatap kolong meja gelap komputer, merenungi kembali ucapannya.


pertama.tumblr.com | October 11, 2013

Thursday, 17 October 2013

Doodle - Tetangga Menyebalkan

Bentakkan itu terdengar semakin keras, asalnya tak jauh dari sini. Entah apa yang sedang diributkan. Kadang disusul suara benda dibanting.  Kejadian terserbut terjadi pada suatu sore, di salah satu gang kompleks rumah, setengah jam sebelum adzan maghrib.  Banyak orang lalu-lalang di gang itu, mungkin mereka selesai bekerja, atau kegiatan lain yang mengharuskan mereka berada di luar rumah.

Bentakkan itu berasal dari seorang pria dan wanita di salah satu rumah warga di situ. Yang kutau, mereka menjadi suami-istri dan tinggal di sini sejak lama. Sepertinya mereka sedang meributkan masalah pribadi, lagi. Jarak teriakan mereka bahkan masih tedengar hingga lima rumah di sekitarnya. Lumayan keras untuk membangunkan bayi yang terlelap saat itu.

Warga yang ada di sekitar situ, walaupun tak sengaja, pasti mendengar teriakan tersebut. Ada seseorang yang baru pulang dari tempat usaha laundry-nya; seseorang yang baru selesai bekerja kuli bangunan; pengangguran yang beringsut keluar dari persembunyian, kembali berkumpul di perempatan jalan; seorang penjual mie ayam keliling mendekati mereka, menggodanya dengan aroma barang dagangannya. Mereka bersikap biasa saja , seolah tak terjadi apapun.

Sudah bertahun-tahun kami mengenal pasangan suami-istri itu. Bahkan kami sudah terbiasa dengan tabiat mereka. Walaupun demikian, aku tak habis pikir mereka tak belajar dari pengalaman yang sudah-sudah dan meributkan hal yang sama. Suami-istri itu tak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Selain tak pernah rukun, mereka pun merasa tak punya andil untuk ikut menjaga kenyamanan dan ketenangan lingkungan di situ.


Bagaimanapun juga, mereka tetaplah manusia. Sudah menjadi kodrat bahwa manusia tak ada yang sempurna. Ketidaktauan, ketidakpekaan, dan ketidakpedulian orang-orang seperti itu adalah hasil dari rentetan kebiasaan, kondisi lingkungan, dan berbagai pengalaman masa lalu; yang membentuk karakter setiap orang.

Wednesday, 25 September 2013

Saking Emosi

Tirto menarik gas motornya kesetanan! Uang yang dikumpulkannya berbulan-bulan dari sebagian gajinya, ia belikan knalpot modifikasi. Dia sudah muak bersabar tiap hari mendengar pertengkaran rumah tangga tetangga di seberang rumahnya. Tirto pikir, mungkin dengan cara ini mereka akan sadar bahwa teriakan mereka hampir sekeras letupan knalpot barunya. Memikirkan angsuran motornya yang belum lunas, nanti dulu lah.

Tirto masih tinggal serumah dengan orang tuanya. Biasanya, Tirto mendengar orang tuanya sedang membicarakan tetangga seberang rumah dengan tetangga lainnya. Bukan, mereka tidak membicarakan aibnya, melainkan mengeluh bahwa mengapa mereka harus ikut mendengar pertengkaran itu. Sesekali mereka sindir ketika pertengkaran tetangganya itu tengah berkobar. Mungkin tersulut omongan mereka, ditambah lagi keluarga yang mengganggu itu tak peka terhadap sindiran, karena itulah Tirto mengambil jalan lain untuk “menyindir”, itung-itung meluapkan kekesalannya.

Sudah seminggu lebih Tirto telah melakukannya, keluarga yang berisik itu belum menunjukkan perubahan. Dia tak habis pikir, mengapa mereka bertengkar tiap hari; pasti setiap pagi, apalagi sore, malam harinya jarang terjadi.

Tetangga lainnya tambah terganggu karena kehadiran suara knalpot yang keras itu. Ibunya yang memberitau. Beruntunglah ada ibu tetangga lainnya yang tak sungkan mengatakannya. Tirto berpikir keras agar kejadian ini tak terulang kembali. Rupanya, Tirto belum memperhitungkan dampaknya sejauh itu.

Hari-hari berikutnya, keluarga di seberang rumah Tirto masih ribut seperti biasa. Tirto mengatupkan mulutnya, seolah menelan pil pahit, lalu menghela napas. Dia berlama-lama sarapan sambil memutar musik dangdut. Yah, dia tak terpikirkan kegiatan yang lain untuk menunggu jemputan teman kerjanya.


Suara mesin motor yang tak asing itu tiba, teman kerjanya menjemput. Tirto haris sedikit lebih sabar lagi menunggu knalpot barunya ada yang mau membeli. Dia berencana untuk mengganti dengan knalpot yang lebih ramah suara. Teman kerjanya tertawa geli, dialah orang yang menemani Tirto ketika Tirto menjual knalpot standarnya untuk tambahan dana pembelian knalpot baru.

Sunday, 18 August 2013

Rezeki

Penulis:  Putery Raina



Aku bermohon pada Yang Esa...
Murahkan rezeki ku setiap masa...
Walau doaku tidak tercapai...
Aku tetap tidak berputus asa...

Hanya Allah yang mengenaliku...
Sehinanya dan kejinya aku....
Baik dan mulianya aku.....
Hanya Allah yang tahu...

Bila aku berusaha...
Aku teruja ingin berjaya....
Aku menitiskan airmata...
Memohon rezeki yang ada...


Tolonglah ya Allah...
Aku hidup hanya sekali laluan....
Pohon darimu kekuatan...
Aku mohon keinsafan...

Bila makbulnya rezeki dari mu...
Jangan kau butakan hati ku...
Takbur dan sombongnya aku...
Kerana aku ingin membantu insan sekelilingku...

Berapa ramaikah insan yang ingat rezeki...
semua berdengki dan busuk hati...
Tahukah kalian rezeki tuhan...
Tak kekal, tak mudah dijaga...
Tak mudah diguna
Penentu pintu syurga dan neraka

Ya Allah, aku mahu rezekimu itu...
Tapi aku mahu rezeki yang aku ingat...
Rezeki yang membawa aku...
Ke destinasi yang diredhai...

Jika lahirnya rezeki itu bukan milikku...
Tak mengapalah ya Allah...
Cuma aku pinta, mati dan imanku...
Biarlah REZEKI jasad yang sempurna...
Amin, ya Allah...


Sunday, 11 August 2013

Cintai Bulan Ramadhan


Penulis:  Putery Raina



Bulan mulia kembali lagi....
Bulan dinanti penuh makna sendiri...
Akuilah dosa-dosa silam...
Inilah bulan untuk keberkatan...

Ramadhan cahaya yang suci...
Tak semua umat mencintai bulan ini...
Tapi aku muhasabah diri
Walau banyak hinanya diri...

Satu tahun hanya sekali...
Ibarat hari lahir sendiri...
Tapi siapa yang ambil peduli...
Hanya melalui dengan penuh kelalaian hati...


Ya Allah, aku hamba yang serba kedaifan...
Aku lupa cahaya iman...
Aku buta pada papan nyawa...
Aku leka dengan dunia...

Bukalah rahmatmu ya Allah...
Pada bulan yang Kau cipta penuh syurga....
Aku jadi kaku...tersendu dan malu...
Apabila datangnya sinaran Ramadhan...
Aku takut tak dapat memilikinya...
Tiada rahmat dari tuhan....

Sedarlah wahai insan...
Cintai bulan Ramadhan...
Jangan difikirkan duniawi...
Tiada bekal hidup ketika mati...

Andai ini Ramadhan terakhir...
Tiada siapa mengetahui...
Laluilah dengan penuh kesabaran...
Walau nyawa jadi taruhan...

Selamat datang bulan Ramadhan...
Akan ku tempuh walau kekurangan...
Akan ku terus berbangga...
Kerana aku dilahirkan untuk ke syurga...
Walau aku perlu mencari tiketnya sentiasa...
Dimana dan ke mana haluan...
Pada hati dan imanlah yang menentukan...

Tuesday, 6 August 2013

Sepi si tua

Aku memandang sepi cuma. Nak berkata tak mampu. Nak bergerak ku kaku. Wajah tua yang tak asing lagi cuma mampu ku renung dalam-dalam. Lemah tak bermaya wajahnya yang terlantar. Apa salahnya? Hingga dia tersadai sendiri. Aku juga masih punya pelawat walaupun hari bersilih ganti. Tapi dia? Dia keseorangan. Gering sendiri.

“Nurse, macam mana patient ni? Ada ahli keluarga datang?” Perempuan itu menggeleng. Lengkap berbaju putih kemas namun ku rasa agak seksi. Aku hanya memandang sayu dari kejauhan.

“Awak okey?” Tanya doktor setelah dia meneliti laporan tahap kesihatan aku. Aku cuma mengangguk. Fikiranku masih lagi menerawang jauh. Rasa kasih dan kasihanku tertumpah ke wajah nenek tua yang katilnya bertentangan dengan aku. Adakala aku mendekatkan diri. Memberi dia minum saat dia dahaga. Memberi urutan saat dia gelisah tak mampu lena. Aku jatuh kasihan. Apatah lagi dia tiada yang melawat. Menjaga keperluannya apatah lagi.

Pernah aku tanyakan, mana perginya anak dia. Dia cuma menggeleng dan mengalirkan air mata sayu. Aku tak jadi meneruskan niat bertanya lebih lanjut. Bimbang aku pula yang tak mampu menahan sebak di dada.

“Ada rasa sakit tak masa berjalan? Buang air?” Aku menggeleng semata.

“Awak kenapa sedih? Patutnya awak happy tau, sebab esok awak dah boleh keluar. Nanti saya senaraikan ubat untuk awak. Bagitau ahli keluarga lain. Selamat menyambut hari raya ye Iffah…” Lagi sayu aku mendengar perkataan raya dari mulut lelaki itu. Doktor Borhan setia menjaga aku selama empat hari aku di sini. Terlantar gara-gara keracunan makanan.

“Saya suka. Terima kasih doc. Tapikan, saya nak tanya sikit boleh?” Aku mula melontarkan seribu persoalan. Rupanya pihak hospital sengaja menahannya di wad kerana tiada siapa pun pedulikannya. Malah di nursery penjagaan orang tua pun sudah tak mampu menjaganya. Walaupun nenek itu sakit tua, tapi pihak hospital dengan rasa belas, menumpangkan nenek itu. Aku yang mendengar cerita itu terus menangis teresak.

“Sampainya hati anak-anak dia…” Itu saja yang lahir dari mulutku. Itu semua cerita setahun yang lalu. Saat nenek itu masih bernyawa. Kini dia telah pergi menghadap ilahi. Aku doakan dia tenang di sana bersama Sang Pencipta.

Setelah aku mendengar kisah anak-anak nenek itu tegar menghantarkan nenek itu ke pusat penjagaan orang tua dan langsung tak menjenguk apatah lagi memberi wang pembiayaan, aku tekad meminta keluargaku membawa nenek itu pulang. Biarlah aku sebagai saudara seislam menjaganya. Aku pun tak pernah merasai kehangatan kasih sayang seorang nenek. Nenek itu dijaga oleh keluargaku hinggalah saat terakhirnya. Aku bangga kerna aku berkesempatan membahagiakan dia walau sekejap cuma. Nenek itu tak bersalah kerana punya anak sebegitu. Bukan salah didikannya, bukan salah asuhannya. Cuma inilah ujian yang Allah turunkan untuknya. Nenek pergi dengan tenang buat selamanya. Hingga kini aku masih mendoakan dia di sana. Semoga bahagia yang abadi milikmu, Nek!


Sunday, 4 August 2013

Ikemen Butler - Episod 5 (Akhir)

Episod 1 | Episod 2 | Episod 3 | Episod 4

“Wah, tak rugi aku ambil cuti panjang-panjang. Boleh tengok kau kahwin!” Aliya bersuara sambil memeluk tubuh Qairina sedang khusyuk menonton drama kegemarannya di ruang tamu.
“Ish, kau ni. Kau pun tak betul jugak. Balik Malaysia seminggu lepas tu kau muncul balik kat sini. Terkejut aku tengok kau dok tersengih depan muka pintu kelmarin tau.” Qairina Mencebik.
“Alah, aku balik renew visa, tolong-tolong ibu kau apa yang patut, lepas tu aku flylah balik sini. I’m a tourist guide okay. That’s just a simple task for me.” Aliya mencapai cawan yang berisi ais krim di hadapannya.
“So, kau tolong apa je?” soal Qirina lagi.
“Tolonglah apa-apa yang patut. Minggu depankan family kau nak datang sini. Haritu aku datang rumah kau hantar kain yang Kak Long kau pesan tu, Along kau tengah ceramah si Rifqi tu dekat Skype. Comel je aku tengok.” Aliya ketawa kecil.
“Ceh, benda lain pulak yang kau buat.” Qairina mencebik lagi.
“Aku ada story tau. Kau nak tahu tak kenapa Hakim tiba-tiba muncul kat sini?” soal Aliya. Qairina hanya diam tanpa menoleh. Matanya difokuskan pada kaca televisyen.
“Kalau kau tak nak dengar pun aku nak cerita jugak. Nurin accident. Separuh badan dia lumpuh. Itu yang si Hakim tu tiba-tiba nak rujuk dengan kau. Abang Nurin cari dia, belasah dia cukup-cukup. Sebab Hakim yang drive time diorang accident tu. Tak sedar diuntung betul si mamat tu. Sekarang ni, family dia dengan Nurin dah sepakat. Diorang nak kahwinkan aje budak berdua tu. Hakim pun macam dah sedar diri sikit. Aku harap diorang akan bahagialah. At least, Nurin tu pernah jadi kawan baik aku dulu.” Aliya bercerita.
“Nurin pun best friend aku jugak dulu. Kau ingat senang ke nak lupakan dia lepas semua yang kita dah buat time sekolah dulu. Walau apa pun yang jadi, kita sama-sama doakan agar Hakim dengan Nurin akan akan baik macam dulu. Asalkan diorang dah tak kacau hidup kita bukan-bukan lagi pun aku dah cukup bersyukur.” Qairina bersuara perlahan.
So, stop those entire sad stories. Apa plan kau lepas kahwin nanti? Aku yang beria-ia bertunang bagai, kau pulak yang tiba-tiba kahwin dulu.” Aliya segera menukar topik.
Honeymoon.” Qairina menjawab.
“Amboi, gatal! Honeymoon kat mana?” soal Aliya ingin tahu.
“Malaysialah. Kan ke kau kahwin lagi dua bulan? Nanti ada pulak orang tak jadi kahwin sebab bridesmaid dia tak balik Malaysia.” Qairina menjawab sambil ketawa kecil.
“Ceh, aku ingat kau semangat patriotik sangat nak honeymoon kat Malaysia.” Aliya membaling bantal kecil di dalam pelukannya ke arah Qairina. Qairina hanya ketawa dan membaling semula bantal tersebut ke arah Aliya sebelum mereka sama-sama ketawa.

******************************************************************************
Mungkin Qairina ada kisah lalu yang membuatkan dia lari dari kehidupannya yang sebenar. Namun, sesungguhnya ALLAH itu Maha Penyayang. ALLAH memeberikan dugaan agar kita sedar ada jalan yang lebih baik di hadapan kita.

Walau apa pun yang terjadi, Qairin sudah berjanji yang dia tidak akan lemah lagi. kini, dia tidak akan bersendirian lagi. Dia berharap agar jalan yang dipilihnya kali ini adalah jalan yang betul. Walaupun jalannya masih panjang dan penuh liku, kali ini, dia akan kuat. kerana dia yakin dia masih punya ramai insan-insan yang akan menyokongnya dari belakang. Semoga kebahagian akan menjadi miliknya kini dan selama-lamanya.

TAMAT.

Sunday, 28 July 2013

Ikemen Butler - Episod 4

Episod 1 | Episod 2 | Episod 3

“Amboi berseri bukan main muka kau sekarang. Untunglah dah ada boyfriend.” Aliya membaringkan tubuhnya di atas katil milik Qairina. Dia sengaja mengambil cuti dan datang ke Jepun untuk melawat sahabat baiknya itu.
Boyfriend mana pulak kau ni?” soal Qairina sambil menyimpan baju yang baru sahaja dilipatnya ke dalam laci.
“Buat-buat tak faham konon. Si Rifqi Haikal tu bukan boyfriend kau ke?” usik Aliya.
“Mana pulak. Aku kawan je dengan dia. Macam dia cakap tadi, dia butler aku. So, sebab kau kawan baik aku, butler aku, kira butler kau jugak.” Qairina membalas pendek dan duduk di sisi katil.
Butler ye? Ikemen butler.” Aliya ketawa kecil.
Ikemen butler? Kau rasa dia handsome?” soal Qairina semula. Ikemen = Handsome.
“Kau tak rasa dia handsome ke? At least handsomelah daripada ex-boyfriend kau yang sebelum ni. Takkan kau nak muka jambu macam artis Jepun baru kau nak jatuh cinta kot? Agak-agaklah sikit.” Aliya membaling bantal kecil dalam pelukannya pada Qairina.
“Hmmm, interesting question. Kenapa aku kena jatuh cinta dengan dia pulak?” soal Qairina hairan.
“Cik Amni Qairina, si Rifqi Haikal tu cukup pakej okay. Kau nak yang macam mana lagi? Ada rupa, ada duit, ada pelajaran, ilmu agama dia je aku tak kaji lagi. Tapi berdasarkan cerita kau lepas balik dari tour haritu aku rasa he’s not bad. Okay apa?” soal Aliya lagi.
“Cukuplah, Liya. Aku dah serik.” Qairina akhirnya menuturkan.
“Serik? Nina, dalam dunia ni bukannya semua lelaki sama macam si Hakim tu? Sampai bila kau nak larikan diri macam ni? From the look outside pun aku boleh rasa dia betul-betul sukakan kau, Nina.” Aliya memberi nasihat.
“Amboi, pandai kau buat conclusion kan? Mana kau tahu? Ikut suka je.” Qairina mencebik.
It’s called a friend’s instinct. Percayalah, Nina. Kau jangan terkejut kalau satu hari nanti tiba-tiba dia melamar kau sudah.” Aliya ketawa kecil.
Maybe. Who knows, right?” Qairina hanya tersenyum kecil.
“Kalau betul apa kau akan buat?” soal Aliya.
“Mungkin aku akan consider. Tapi bukan sekarang. Maybe after two or three years? Lepas habis PhD aku fikir balik fasal ni.” Qairina menjawab senang.
“Ewah, ikut suka hati kau aja nak buat keputusan. Kau tu bukannya makin muda mak cik!” Aliya mencebik.
“Eleh, cakap orang, kau tu pun sama. Kau tu tak makin tua?” Qairina membuat serangan balas.
“Aku dah ada calon.” Aliya ketawa sendiri.
What?! Bukannya nak cerita kat aku! Bencilah kau ni.” Qairina membaling semula bantal di tangannya pada Aliya.
“Aku nak ceritalah ni. Sebab tulah aku ambil cuti datang sini. Nak harap kau balik Malaysia memang terus makan nasi minyak kenduri aku jelah.” Aliya ketawa kecil.
“Ceritalah.” Qairina melompat naik ke atas katil dan duduk di sebelah Aliya, bersedia untuk mendengar cerita sahabatnya itu. Malam yang panjang itu diisi dengan cerita Aliya dan Luqman.
******************************************************************************
Aliya masih lagi ketawa kecil sambil berjalan beriringan dengan Qairina pulang ke rumah sewa milik Qairina. “Ei, kau ni. Dah-dahlah gelak tu.” Qairina menggigit bibirnya.
“Kan aku dah cakap dia ada hati kat kau. Kau bukannya nak percaya cakap aku.” Aliya bersuara dalam tawa. Qairina mencebikkan bibirnya dan terus berjalan laju sambil dikejar oleh Aliya dari belakang.

PERISTIWA 1 JAM YANG LALU

“Kenapa aku kena teman kau? Nak dating pergi berdualah.” Aliya mengusik Qairina sambil mereka berjalan menuju ke Café Yuuki, di mana Rifqi dan Nisha sedang menunggu.
“Dahtu, rajin pulak kau nak duduk sorang-sorang kat rumah?” Qairina membalas usikan Aliya.
“Aku ada Luqman apa. Boleh call ke, mesej ke, skype ke. Banyak lagi kerja aku boleh buatlah. Aku yang jejak kaki ke Jepun dulu sebelum kau. Semua jalan kat Ibaraki ni aku dah hafal. Jangan lupa tu.” Aliya mengingatkan.
“Dahlah, bisinglah kau ni. Teman jelah aku.” Qairina menarik tangan Aliya agar melajukan langkah mereka. Seketika kemudian, mereka tiba di hadapan pintu masuk Café Yuuki itu.
“Masuklah. Yang kau jadi tiang bendera kat depan pintu ni, kenapa?” Aliya mendahului Qairina. Dia menolak pintu kaca tersebut dan menarik Qairina masuk sambil matanya melilau mencari Rifqi.
Rifqi menyambut mereka dengan senyuman. “Aliya, tak ada plan nak pergi mana-mana ke hari ni?” soalnya.
“Tak ada pun. Dah selalu dah jalan kat sini. Kali ni memang datang nak jumpa dengan Nina je. So, ikut je dia pergi mana-mana.” Aliya menerangkan.
“Oh, ye ke? Ingatkan Aliya ada plan lain. Tapi thanks sebab temankan Nina datang sini. Kalau suruh dia datang sorang memang dia tak akan datang.” Rifqi tersenyum melihat Qairina membuat muka padanya.
“La, ye ke? Patutlah pun.” Aliya tersenyum kecil. Dia menyiku perlahan bahu Qairina yang masih tunduk di sisinya.
So, nak order apa-apa tak?” soal Rifqi.
“Errm, two hot chocolate.” Aliya membuat pesanan pada pelayan. Pelayan itu mengangguk sebelum berlalu.
Suasana sepi seketika. Aliya dan Rifqi bertukar pandangan. Aliya segera memahami isyarat yang cuba disampaikan oleh Rifqi. Dia menyiku Qairina yang masih menunduk. “Aku nak pergi ladies jap.” Diasegera bangkit sebelum Qairina sempat berbuat apa-apa. Aliya berjalan ke kaunter dan berdiri di sebalik dinding. Tempat paling selamat untuk dia memerhati apa yang akan terjadi.
“Saya nak cakap something dengan awak, Nina.” Rifqi memulakan bicaranya.
“Uh? Err…huh?” Qairina tidak tahu bagaimana mahu membalas. Aliya sudah terasa ingin mengetuk kepalanya ke dinding saat itu namun disabarkan hatinya.
“Saya nak cakap something, bukan nak tanya soalan.” Rifqi tersenyum kecil.
“Errmm, apa dia?” Akhirnya Qairina bertanya.
“Hantaran kahwin awak berapa ya?” soal Rifqi dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya. Qairina spontan mengangkat wajah memandang Rifqi di hadapannya.
“Entahlah. Saya pun tak sure. Saya pernah bertunang je, tak jadi kahwin pun.” Spontan juga Qairina menjawab.
“Awak rasa?” soal Rifqi lagi.
“Saya tak tahulah. Kenapa awak nak tahu? Penting ke? Kalau penting, saya boleh call ayah saya sekarang, tanya dia. Dia tahu rasanya.” Qairina menjawab dengan senyuman nakal.
“Kalau macam tu, biar saya je yang cakap dengan ayah awak.” Rifqi juga pintar menjawab.
“Nak buat apa cakap dengan ayah saya?” soal Qairina semula.
“Nak minta izin kahwin dengan anak dia? Itupun kalau anak dia setujulah.” Terus-terang Rifqi menyatakan hasrat hatinya.
“Huh?” Terkejut Qairina mendengar bicara Rifqi secara tiba-tiba itu. “Apa awak cakap ni?”
“Saya serius. Saya nak Amni Qairina jadi isteri saya. Boleh?” Rifqi bertanya sekali lagi.
“Awak serius?” soal Qairina semula. Rifqi mengangguk.
“Awak sanggup terima saya walau apapun yang terjadi?” Rifqi mengangguk lagi.
“Awak takkan tiba-tiba suka pada orang lain suatu hari nanti?” soal Qairina lagi.
“Apa yang buat awak fikir macam tu?” soal Rifqi pula.
“Saya dah pernah kena, Rifqi. Saya tak mahu sejarah lama berulang lagi. Saya dah serik.” Qairina berterus-terang.
“Saya bukan Hakim, Nina. Saya nampak awak seorang je. Dari kali pertama kita jumpa lagi.” Rifqi bersuara meyakinkan Qairina.
“Memanglah awak bukan Hakim. Tapi saya ni biasa-biasa je. Manalah tahu suatu hari nanti awak jumpa orang lain…”
Kata-kata Qairina segera dipotong oleh Rifqi. “Kalau saya nak orang lain, saya tak akan tunggu awak, Nina. Saya bukan muda lagi nak tunggu bidadari jatuh dari langit. Saya tak nak orang lain pun. Saya cuma nak Amni Qairina. Kalaupun saya ada orang lain, awak ingat Nisha akan diam macam tu je? Mungkin saya akan mati kena kerat 18 dengan dia sebelum saya sempat bagitau awak pun.” Rifqi berjenaka.
“Tapi, Rifqi…” Qairina masih cuba membantah.
“Nina, saya tak suruh awak jawab sekarang. Awak balik dulu, istikharah dan bila awak dah yakin, awak boleh bagitau dengan saya. Tak kisahlah sebulan atau setahun. Saya akan tunggu jawapan awak.” Rifqi meyakinkan.
“Kalau sepuluh tahun?” Qairina mengusik.
“Kalau lepas sepuluh tahun awak setuju tak apalah. Kalau lepas sepuluh tahun awak tak setuju awak nak suruh saya jadi bujang terlajak ke cik Amni Qairina oii?” Rifqi menjawab sambil ketawa.
“Saya yakin dengan jodoh yang ALLAH dah tuliskan untuk kita, Qairina. Kalau ada jodoh kita, selama mana pun saya akan tunggu.” Raifqi sudah kembali pada mood serius.
“In sya-ALLAH. Saya akan cuba bagi jawapan dalam masa terdekat ni.” Qairina tersenyum.
“Amin.” Entah dari mana Aliya muncul dan mengambil tempatnya di sisi Qairina semula.
“Eh, kau curi dengar ke?” soal Qairina.
“Dah tu, kau ajak aku datang buat apa?” Aliya membalas sambil menghirup hot chocolatenya di atas meja.
“Budak ni, kan!” Qairina mencubit kecil lengan Aliya.
“Sakitlah. Tak malu ke kat Rifqi tu?” Aliya cuba mempertahankan dirinya dari menjadi mangsa ‘ketam-ketam’ yang mula bekerja itu. Qairina tersedar dan kembali duduk dengan sopan. Rifqi hanya tersenyu melihat telatah pasangan sahabat itu. Mereka berbual kosong seketika sebelum Qairina mengajak Aliya pulang dnegan alasan mahu menyiapkan kerjanya untuk minggu depan. Malulah tu!
******************************************************************************
“Masak apa tu?” soal Aliya pada Qairina di dapur.
“Udon sup.” Qairina menjawab sambil mengacau sup di atas dapur.
“Sedapnya bau. Dah boleh kahwin dah ni.” Aliya mengusik.
“Amboi, sibuknya kawan aku yang seorang ni nak suruh aku kahwin. Yang kau tu, lama benar cuti?” Qairina membalas.
“Oh, aku ada last tour next two months sebelum aku berhenti terus. So, before that, aku boleh duduk berapa lama yang aku suka kat sini.” Aliya membuat muka.
“Banyaklah kau punya ikut suka. Visa dengan flight ticket kau macam mana?” soal Qairina semula.
“Aku cakap kat kau seminggu. Tourist visa aku sebenarnya sebulan. Aku ingat nak duduk dengan kau seminggu je. Tapi, crucial time macam ni, mana boleh aku tinggal kau sorang-sorang. Aku nak jugak tahu apa kesudahan kisah Amni Qairina dengan Rifqi Haikal ni.” Aliya masih tidak sudah-sudah mengusik temannya itu.
“Kau ni…” Ketukan di pintu mematikan perbualan antara Qairina dan Aliya. “Kau tengokkan sup aku kejap, okay?” Qairina mencapai tudungnya dan berlalu ke pintu utama.
“Kak Nina, ada orang nak jumpa akak. Dia tanya rumah akak kat mana. Kitorang takut nak bagitau so, saya cakap tak tahu.” Nadiah, salah seorang pelajar Malaysia yang tinggal berhampiran dengan rumahnya memberitahu.
“Siapa?” soal Qairina ingin tahu.
“Tak kenal. Lelaki dari dari Malaysia katanya. Firdaus bawa dia tunggu kat Yuuki sementara kitorang bagitau akak.” Nadiah menerangkan.
“Wah, ada lagi pelawat dari Malaysia?” Aliya yang baru sahaja tiba menyampuk. “Tanya tak nama dia siapa?”
“Ala, lupalah nak tanya tadi. Sorry.” Nadiah menjawab perlahan.
“Tak apa, nanti Kak Nina jumpa dia kat Yuuki. Thanks, Nad.” Qairina tersenyum sebelum Nadiah berlalu.
“Siapa, Nina?” soal Aliya ingin tahu.
“Manalah aku tahu.” Qairina menjawab malas dan menghilangkan diri ke dalam biliknya sebelum muncul semula. “Liya, teman aku nak?” ajak Qairina.
“Tak naklah aku. Sekali Rifiqi yang datang. Nak buat surprise ke?” Aliya menolak.
“Taklah, kalau Rifqi, dia nak buat surprise pun, buat apa dia nak tanya orang rumah aku kat mana, baik dia suruh je Nadiah suruh aku pergi Yuuki terus. Jomlah, Liya.” Qairina memujuk.
“Yalah, yalah. Kau ni…” Aliya juga turut bersiap sebelum mereka sama-sama keluar menuju Café Yuuki.
“Kau agak-agak siapa? Lelaki pulak tu?” Aliya bertanya sambil mereka berjalan menuju ke Café Yuuki.
“Entahlah, mungkin…” Langkah Qairina mati melihat susuk tubuh yang dikenalinya yang sedang berbual dengan Firdaus. Dia terus sahaja melangkah keluar sambil diikuti Aliya.
“Airin! We need to talk.” Lengannya ditarik secara tiba-tiba.
“Lepaslah! Saya bukan Nurin!” Qairina menrentap lengannya dari pegangan lelaki itu.
“Okay, saya minta maaf. We really need to talk.” Lelaki itu bersuara memujuk.
You come all the way to Japan just to say we need to talk? Awak ni dah betul-betul hilang akal ke?” soal Qairina dengan nada marah.
“Airin, calm down please. Saya nak buat macam mana lagi? Setahun saya cari awak lepas awak hantar notis berhenti kerja dulu tau. Please, just listen to me once.” Lelaki itu masih cuba menenangkan Qairina sambil diperhatikan oleh Aliya dan Firdaus.
Yeah, make it short, Hakim.” Qairina akhirnya mengalah. Dia melangkah dan duduk di kerusi yang disediakan di taman kecil tidak jauh dari Café Yuuki sebentar tadi.
Let’s start all over again?” Ayat itu membuatkan Qairina spontan bangkit dari duduknya.
No, thanks.” Terus sahaja dia berlalu namun lengannya sekali lagi ditarik. “Let me go, Hakim!” Qairina terasa darahnya menggelegak kala itu.
Nope. Until you gave me an exact answer.” Hakim berkeras.
“Ni jawapan kau.” Satu tumbukan singgah di wajah Hakim. Spontan lengan Qairina dilepaskan dan Hakim terduduk ke lantai. “Kau ingat aku nak berdiam diri je tengok apa yang kau dah buat pada Nina selama ni? Baliklah, Hakim. Stop doing useless things.” Aliya berdiri di sisi Qairina.
You have no right to intrude, Aliya.” Hakim bangkit dan memandang kedua-duanya.
No right? Siapa awak nak cakap fasal hak semua? You are the intruder! Awak datang sini dan cakap let’s start all over again? Just like before? And suddenly throw me away again? No, thanks.” Qairina menarik tangan Aliya dan mereka terus sahaja berlalu pergi meninggalkan Hakim sendirian di situ.
“Kau ni biar betul.” Qairina bersuara setelah agak lama kedua-duanya mendiamkan diri.
“Apa?” soal Aliya semula.
“Selamba je kau bagi penumbuk kat dia. Lebam mata dia seminggu tu.” Qairina menggeleng sendiri sambil mengeluarkan kunci rumahnya.
“Tak rugi aku belajar tae kwon do dulu. Ada jugak yang jadi mangsa aku. Hakim tu biadap! Dia ingat kawan baik aku ni murah? Dia datang lagi, tahulah aku nak ajar dia macam mana.” Aliya bersuara geram.
“Dia takkan datang lagilah.” Qairina bersuara sambil duduk di sofa.
“Mana kau tahu?” soal Aliya ingin tahu.
Knowing him for years, he wouldn’t do so.” Qairina tersenyum tanpa perisa. “Dan aku tahu dia bakal kena kejar dengan kayu pulak kayu dia datang sekali lagi.” Sempat dia berjenaka.
“Tak adanya, aku call je polis terus.” Aliya ketawa kecil. Kemudian dia mengalih pandang pada Qairina. “Tapi, dia buat apa kat sini? What happened to Nurin?
Qairina mengeluh perlahan dan mengangkat bahu tanda tidak tahu. “I don’t care, Liya. And I don’t even want to know.” Dia bangkit dan berlalu ke biliknya. Aliya juga mengeluh perlahan. Apalah yang akan jadi selepas ini agaknya?

Qairina duduk bermain dengan telefon bimbitnya di meja yang terletak di tepi tingkap. “Nina?” Satu suara menegurnya. Qairina mengangkat wajahnya dan menghadiahkan senyuman pada pemilik suara tersebut.
“Mana Aliya?”
“Saya tinggal dia kat rumah. Sebab tu saya ajak awak keluar pagi-pagi ni. Awak belum masuk kerja lagi, kan?” soal Qairina.
Rifiqi menggeleng dan mengamil tempat di hadapan Qairina. “Ada apa?” soalnya.
Qairina mengeluarkan sampul surat dan menyerahkannya pada Rifqi.
“Apa ni?” soal Rifqi.
“Nombor telefon dengan alamat parents saya dekat Malaysia. Ayah awak dengan Nisha kat Malaysia, kan sekarang? So, lagi senang nak berurusan. Saya dah bagitau ayah saya apa yang patut, so it’s your turn now.” Qairina menerangkan.
So, is it a yes?” soal Rifqi dengan senyuman lebar.
It’s up to you how you want to interpret it. Yang penting saya dah bagi jawapan, kan?” Qairina membberi jawapan ringkas.
So, inilah sebab kenapa awak tak nak balik pada saya, ya?” Satu suara tiba-tiba menyampuk perualan antara mereka.
What are you doing here, Hakim?” Qairina yang mulanya terkejut membalas marah.
“Nak tahu kenapa awak reject saya? Awak nak balas dendam pada saya, kan? Sebab saya tinggalkan awak dan pilih Nurin? Awak ni pandai betul buat lawak. Kalau ya pun awak nak bagi saya cemburu, tak payahlah pakai lelaki macam ni? Tengok pun saya dah tahu he’s nothing. At least saya dulu pilih Nurin, she’s better than you.” Hakim bersuara lantang.
“Nina, siapa ni?” soal Rifqi.
“Aku bekas tunang dia. Dia tak pernah cerita ke? Kitorang pernah bertunang dulu, tapi tak jadi kahwin. Have been a history for years.” Hakim menjawab bagi pihak Qairina.
“Oh, bekas tunang? So, apa hak kau untuk cakap yang bukan-bukan pada bakal isteri aku?” soal Rifqi lagi.
“Well, aku tinggalkan dia untuk perempuan yang lebih baik. Tapi dia tinggal aku untuk lelaki macam kau. Bakal isteri kau tu bekas tunang aku. So what?” Hakim menjawab selamba sebelum dia basah disiram air coklat suam yang berada dalam gelas yang sudah kosong di tangan Qairina.
You really need to do something about your brain, Hakim. Please back away before I do something else.” Qairina bersuara lantang.
Hakim mengesat wajahnya yang basah dengan air coklat tersebut. Nasib baik bukan air panas yang disiram oleh Qairina ke tubuhnya. “You better watch your attitude, Qairina!”
Look who’s talking. Sekali lagi awak muncul depan mata saya, saya tak akan teragak-agak untuk call polis. Remember that!” Qairina berlalu sambil diikuti oleh Rifqi. Setelah agak lama berjalan, Qairina akhirnya duduk di sebuah kerusi berhampiran.
Seketika kemudian, Rifqi muncul di situ. “Saya teman awak balik rumah?” Rifqi mempelawa.
Thanks.” Qairina menjawab sebelum bangkit dari duduknya.
Are you okay?” soal Rifqi setelah agak lama mereka menyepi.
“Saya minta maaf. Hakim tu…”
Kata-kata Qairina segera dipotong oleh Rifqi. “Saya dah tahu semuanya fasal Hakim. So, don’t bring back your bitter memory about him, okay? Kalau dia datang jumpa awak lagi, just tell me. I’ll do something about him.
“Uish, awak pasang spy ke?” soal Qairina cuba berjenaka.
“Lebih kurang. Tapi, spy ni volunteer nak cerita. Saya tolong dengar je.” Rifqi menjawab.
“Huh? Siapa? Nisha? Tapi saya tak pernah cerita apa-apa pun kat Nisha?” soal Qairina lagi.
“Bukan Nisha.” Rifqi menafikan.
“Dah tu?” soal Qairina ingin tahu.

“Tu.” Rifqi menunjuk pada Aliya yang sedang melambai mereka dari balkoni biliknya. Qairina mengerut dahi. “Awak ingat dia saja-saja ke datang bercuti kat sini?” Rifqi tersenyum kecil. “I’ll see you tomorrow. Assalamualaikum.” Rifqi terus sahaja berlalu pergi meninggalkan Qairina yang masih terpinga-pinga di situ.

bersambung...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...